Kamis, 18 Desember 2008

kodok..

Di sebuah tempat di tepian hutan, seorang santri tengah menyiapkan tempat untuk salat malam. Ia sapu debu dan dedaunan kering yang tercecer di sekitar ruangan salat. Sesaat kemudian, sajadah pun terhampar mengarah kiblat. Hujan yang mulai reda menambah keheningan malam.

"Bismillah," suara sang santri mengawali salat. Tapi, "Kung...kung...kung!" Suara nyaring bersahut-sahutan seperti mengoyak kekhusyukan si santri. Ia pun menoleh ke arah jendela. "Ah, suara kodok itu lagi!" ucapnya membatin.

Sudah beberapa kali ia ingin memulai salat malam, selalu saja suara kodok meng-kungkung bersahut-sahutan. Tentu saja, itu sangat mengganggu. Masak, salat malam yang mestinya begitu khusyuk, yang tertangkap selalu wajah kodok. Mata yang bulat, leher dan kepala menyatu dan meruncing di mulut, serta gelembung di bagian leher yang menghasilkan nada begitu tinggi: kung!

"Astaghfirullah! Gimana bisa khusyuk," ucap sang santri sambil membuka jendela kamarnya. Ia menjulurkan kepalanya keluar jendela sambil menatap tajam ke arah genangan air persis di samping jendela. Tapi, beberapa kodok tetap saja berteriak-teriak. Mereka seperti tak peduli dengan sindiran 'halus' si santri.

Hingga akhirnya, "Diaaaam!!!" Si santri berteriak keras. Lebih keras dari teriakan kodok. Benar saja. Teriakan santri membuat kodok tak lagi bersuara. Mereka diam. Mungkin, kodok-kodok tersadar kalau mereka sedang tidak disukai. Bahkan mungkin, terancam. "Nah, begitu lebih baik," ucap si santri sambil menutup jendela.

Ia pun kembali mengkhusyukkan hatinya tertuju hanya pada salat. Kuhadapkan wajahku hanya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi. Tapi, "Kung...kung...kung!" Kodok-kodok itu kembali berteriak bersahut-sahutan. Spontan, sang santri kembali menghentikan salatnya.

Kali ini, ia tidak segera beranjak ke arah jendela. Ia cuma menatap jendela yang tertutup rapat. Sang santri seperti menekuri sesuatu. Lama..., ia tidak melakukan apa pun kecuali terpekur dalam diamnya.

"Astaghfirullah," suara sang santri kemudian. "Kenapa kuanggap teriakan kodok-kodok itu sebagai gangguan. Boleh jadi, mereka sedang bernyanyi mengiringi malam yang sejuk ini. Atau bahkan, kodok-kodok itu pun sedang bertasbih seperti tasbihku dalam salat malam.

Astaghfirullah," ucap sang santri sambil menarik nafas dalam. Dan, ia pun memulai salatnya dengan begitu khusyuk. Khusyuuuk...sekali. Begitu pun dengan kodok-kodok: "Kung...kung...kung!"

***

Kadang, karena ego diri, sudut pandang jatuh tidak pas pada posisinya. Biarkan yang lain bersuara beda. Karena boleh jadi, itulah tasbih mereka. (mnuh, eramuslim.com)

 

Minggu, 21 September 2008

Smangat Pejuang Islam

ditengah keterbatasan waktu dan padatnya jadwal kuliah tak membuat kita beralasan untuk tidak memberikan keadilan bagi siraman rohani kita, jangan sampai kita seperti orang buta yang melihat gajah akan manyak sekali pendapat yang berbeda antara si Buta satu dengan lainnya. begitu juga pemahaman tentang Islam jika kurangnya ilmu atau keterbatasan pengetahuan akan membuat kita merasa adanya perbedaan yang muncul antara pemeluk Islam. begitu juga dengan anggapan si Buta salah satu memegang perut danmenyatakan gajah itu seperti bedug, yang lain memegang kuping dan menyatakan gajah itu seperti kipas yang besar dan sebagainya, sehingga segala sesuatu perlu dan pasti ada ilmunya semoga kita bersama-sama bisa menyelami indahnya islam...

Rabu, 17 September 2008

Assalamu'alaikum wr.wb

Syukur alhamdulillah hirabill alamin dengan rahmat Allah telah rampung blog JMV.. Kami berharap dengan adanya blog ini dapat memberikan informasi kegiatan dan sharing tentang kegiatan yang telah dilaksanakan temen temen JMV.

Masih dalam suasana bulan Ramadhan mengingatkan untuk tetap istiqomah meraih ridhonya.
Amin.

Wa'alaikumsalam wr.wb

U'suf